You are currently viewing Kajari Aceh Singkil Jenguk Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah

Kajari Aceh Singkil Jenguk Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah

Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Singkil, Muhamad Husaini menunjukkan rasa empatinya kepada warga yang membutuhkan perhatian.

Di sela-sela kesibukannya, Kajari didampingi Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Aceh Singkil, Puput Husaini menyempatkan menjenguk bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dirumahnya di Desa Gunung Lagan Kecamatan Gunung Meriah, Rabu 6 Juli 2022.

Dihadapan orangtua serta petugas dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas, Kajari mengungkapkan keprihatinan atas kondisi si bayi. Untuk itu Ia akan mengambil langkah perawatan terhadap si bayi.

“Kita akan ambil langkah-langkah untuk perawatan di rumah sakit, untuk infusnya nanti saya akan kontak dengan dokter spesialis anak dan direktur rumah sakit,” kata Husaini.

Sementara untuk biaya rumah sakit, Kajari siap untuk menanggung semua biaya perawatannya. “Soal biaya nanti biar saya yang nanggung semuanya untuk pengobatan anaknya, yang penting anaknya sehat demi generasi penerus Aceh Singkil, jangan sampai stunting,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Kajari dan Ketua IAD Aceh Singkil turut memberikan santunan terhadap orang tua bayi.

Bayi BBLR bernama Ahmad Al Fatih berusia sekira satu bulan lebih. Lahir normal di Bidan desa dengan berat 1,8 kg. Kemudian langsung dibawa ke RSUD. Di RSUD dirawat selama seminggu dengan infeksi paru-paru. Diketahui memiliki riwayat ibu perokok dan tak pernah posyandu.

“Pada 23 Juni berat badan bayi menurun 1,58 kg,” kata salah seorang tenaga gizi dari Puskesmas Gunung Meriah yang turut mendampingi.

Pihak puskesmas lalu menyarankan dan meminta sesuai dengan tata laksana gizi buruk bahwa bayi tersebut harus dirawat kembali di RSUD, namun ditolak oleh orang tuanya.

“Tim asuhan gizi Puskesmas kemudian kembali mendatangi rumah bayi untuk mengecek kondisinya, dan berat badanya sedikit naik menjadi 1,75 kg, namun masih dibawah normal,” tambahnya.

Sementara orang tua bayi, Awaludin, mengatakan anaknya sebelumnya dirawat di RSUD. Atas izin dokter, anaknya kemudian dibawa pulang. Namun setelah pulang, lantaran dirumah sakit si anak diinfus menyebabkan tangan kirinya kaku, sulit menggenggam.

Merasa khawatir atas kondisi anaknya tersebut, Awal kemudian menolak saran petugas puskesmas untuk kembali membawa anaknya ke rumah sakit. “Lahir normal setelah masuk rumah sakit, tiga hari dibuka infus, tangan kiri tidak bisa lagi menggenggam, sementara tangan kanannya normal. Makanya sama isteri rajin dipegang-pegang tangan si anak,” ungkapnya.

Awal mengatakan, jika memang terpaksa harus kembali dirawat di RSUD. Ia meminta anaknya jangan lagi diinfus, tapi diminumkan obat atau ke ibunya melalui ASI.

Mengenai biaya rumah sakit, Awal mengaku jika terkendala biaya. “Awalnya sudah mengurus BPJS namun ada kendala jaringan di pencatatan sipil dan kantor BPJS, dua kali saya mengurus tidak jadi-jadi. Beruntung karena kebetulan orang tua rumahnya dekat dengan RSUD, jadi mendapat keringanan,” ungkapnya.

Kendati demikian, Awal kembali mencoba mengurus BPJS anaknya tersebut. “Tadi baru saya urus lagi, alhamdulillah sudah jadi BPJS-nya,” tukasnya. (Hab)

Share

Tinggalkan Balasan