You are currently viewing Ini yang Dilakukan Dinas Pangan Aceh Singkil untuk Kendalikan Inflasi

Ini yang Dilakukan Dinas Pangan Aceh Singkil untuk Kendalikan Inflasi

  • Post author:
  • Post category:Daerah
  • Post comments:0 Comments

Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil terus menjaga laju inflasi di tengah tekanan inflasi global, terutama pada komoditas bahan pangan.

Kepala Dinas Pangan Kabupaten Aceh Singkil Abdul Haris mengatakan, Kabupaten Aceh Singkil merupakan daerah konsumen bukan produsen. Dengan kondisi tersebut, pihaknya akan ekstra hati-hati dalam hal penanganan pangan.

Sebagai contoh dalam mengatasi kelangkaan stok beras, Pemkab Aceh Singkil menjalin kerjasama penyediaan berasa sebanyak 10.000 ton per tahunnya dengan Pemkab Abdya,

“Dianjurkan bagi daerah yang surplus bekerjasama dengan daerah yang kekurangan beras seperti daerah kita. Abdya surplus padi sekitar 40.000 ton per tahunnya,” kata Haris saat ditemui dikantornya, Kamis 17 Februari 2023.

Ia menyatakan jika kebutuhan beras masyarakat Aceh Singkil per tahunnya sebanyak 14.000 ton. Sementara lahan sawah yang dimiliki hanya mampu menghasilnya 2.500 ton.

Ketersediaan bahan pangan menurutnya merupakan tanggung jawab dari pemerintah. Untuk itu Ia berharap kelancaran dalam distribusi, transportasi dan ketersediaan bahan dari daerah produsen.

“Yang kita khawatirkan seandainya daerah produsen terjadi paceklik panen, banjir atau gagal panen maka akan berpengaruh terhadap daerah konsumen,” ujarnya

Guna mengantisipasi hal tersebut, Haris menyebut Dinas Pangan kedepan memiliki program buffer stock atau tempat penyimpanan bahan pangan.

“Ini sedang coba diajukan kepada pimpinan daerah Pj Bupati,” ungkap Haris.

Ketika terjadi panen melimpah pada daerah produsen, maka Dinas Pangan dapat membeli dan menyimpan bahan pangan dalam jangka panjang pada Buffer stock.

“Kita harus menyadari betul kalau daerah kita ini merupakan daerah konsumen, kemandirian pangan atau swasembada masih terlalu jauh,” imbuhnya

Hal ini terbukti dari lahan pertanian sawah yang semakin menyempit, alih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Dari luas sawah yang awalnya 1500 hektar, berkurang 1000 hektar, berkurang kembali tinggal 500 hektar.

“Indikasi ini menjadi kelemahan Buffer stock, artinya dengan lahan sawah yang tersisa, tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat,” katanya

Beruntung jika masyarakat memiliki kecukupan uang, dan dengan ketersediaan bahan pangan maka masih dapat membelinya. Sebaliknya jika masyarakat memiliki cukup uang, namun tidak ada stok bahan pangan, maka harga pangan akan melambung naik.

“Inilah yang menyulitkan bagi daerah konsumtif seperti Aceh Singkil. Permintaan besar, namun stok barang sedikit,” katanya

Diketahui bagan pangan yang banyak dijual di Kabupaten Aceh Singkil berasal dari Gayo, Takengon, Sidikalang, Medan Provinsi Sumatera Utara.

Jelang ramadan, harga bahan pangan biasanya cenderung meningkat. Guna mengantisipasi hal itu, kata dia, pada saat rapat bersama pengendalian inflasi dengan dinas terkait, diminta jika ada bantuan kepada masyarakat secepatnya disaluran dan dana desa lekas dicairkan.

Menurutnya masyarakat Aceh Singkil cenderung lebih hemat dalam urusan konsumsi. Sebagai contoh, masyarakat yang tinggal di pesisir agak kurang makan sayur.

Masyarakat Aceh Singkil sudah memiliki standar kebutuhan pangan. Berdasarkan catatan Dinas Pangan, kebutuhan cabe merah masyarakat dalam sebulan sebanyak 13 ton.

Dalam memenuhi kebutuhan 13 ton cabe merah, cukup dengan lahan seluas 1 hektar. Dengan asumsi, 1 hektar dapat ditanami 15 ribu batang cabe. Diperkirakan 1 pohon dapat menghasilkan 1 kilogram cabe merah dalam tempo 4 bulan. Guna mensiasati, maka masyarakat dapat menanam cabai pada lahan seluas 4 hektar.

Program pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayur juga menjadi upaya pemerintah dalam menetralkan inflasi.

“Masyarakat yang mampu memanfaatkan pekarangannya, meskipun tidak dapat menjual akan tetapi masyarakat tidak beli. Minimal untuk kecukupan rumah tangga sudah terpenuhi dengan hasil tanaman dipekarangannya,” ungkapnya

Haris berharap bagi masyarakat yang belum memanfaatkan pekarangan rumah agar segera melakukannya. “Kalaupun tidak punya tanah pekarangan, bisa pakai polibag untuk tanam cabe, tomat, sayur dan lainnya,”

Disamping itu jelang ramadan, masyarakat tidak perlu panic buying dengan memborong bahan pangan karena akan berpengaruh terhadap harga barang.

“Kepada pedagang agar tetap menyesuaikan harga barang, jangan memanfaatkan keadaan dengan menaikan harga barang,” tambahnya

Dinas Pangan juga memiliki program “Gerakan Pangan Murah”. Gerakan ini tidak jauh berbeda dengan pasar murah yang biasa dilakukan oleh Disperindag, memberikan subsidi pada harga pangan yang dijual.

Selain itu, Dinas Pangan Kabupaten Aceh Singkil juga memiliki enam lumbung rawan pangan yang tersebar pada enam kecamatan. Masing-masing di Kecamatan Pulau Banyak, Kuala Baru, Singkil Utara, Gunung Meriah, Singkohor dan Kuta Baharu.

Lumbung-lumbung ini nantinya akan diisi stok bahan pangan untuk ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah daerah setempat minimal dapat mengisi 10 persen kapasitas lumbung, selebihnya pemerintah pusat. Sebahagian lumbung, kata dia, saat ini sudah ada yang terisi bahan pangan.

Share

Tinggalkan Balasan