ACEH SINGKIL — Prestasi akademik tak selalu lahir dari kampus-kampus di kota besar. Dari Kabupaten Aceh Singkil, daerah yang berada di ujung selatan Aceh, Dr. Andika Novriadi Cibro, M.Ag., membangun kiprah akademiknya melalui penelitian, inovasi pendidikan, pengabdian masyarakat, hingga forum internasional.
Sepanjang 2026, akademisi tersebut mencatat sejumlah penghargaan. Terbaru, Andika menerima penghargaan Inspirational Lecturer dalam Aceh International Conference on Islamic Studies and Social Sciences (AICISSS) 2026 yang diselenggarakan FKP-PTKIS V Aceh, Rabu, 2 September 2026.
Penghargaan itu datang hanya beberapa hari setelah ia menerima Serambi Awards 2026 untuk kategori Pemimpin Menginspirasi dan Akademisi Berprestasi dari Wilayah Perbatasan Aceh. Penghargaan tersebut diberikan dalam agenda Gebrakan Sang Pemimpin di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, pada 29 Agustus 2026.
Baca Juga : Aktivis Tantang Bupati Aceh Singkil Debat Terbuka
Rekam jejaknya juga tercatat dalam forum akademik internasional. Dalam Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 di Bandung, Andika meraih tiga penghargaan, yakni Top Lecturer in PAI Body of Knowledge Development, Top Lecturer in PAI Research Innovation, dan Top Lecturer in Religious Moderation Community Service.
Pada forum yang sama, STAISAR Aceh Singkil memperoleh penghargaan Top Governance of PAI Study Program.
Bagi Andika, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian individu. Ruang akademik yang berhasil ditembus menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan akademisi dari daerah memiliki kemampuan berkompetisi di tingkat yang lebih luas.
Baca Juga : Akademisi di Aceh Singkil Dukung Polri di Bawah Presiden
Riset Tak Berhenti di Dokumen
Kiprah Andika tidak hanya dibangun melalui penghargaan. Ia mengembangkan penelitian dengan pendekatan Research and Development (R&D), yang diarahkan untuk menghasilkan produk pendidikan.
Produk penelitian tersebut dikembangkan melalui sejumlah tahapan, mulai dari validasi ahli, uji kelayakan, uji kepraktisan hingga uji efektivitas.
Baca Juga : Akademisi STAISAR: Aceh Singkil Harus Ambil Pelajaran dari Demo DPR
Pendekatan itu membuat penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi diarahkan agar dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan pendidikan.
Gelar doktor yang diperolehnya dari Universitas Islam Sumatera Utara Medan juga ditempuh melalui penelitian pengembangan yang menghasilkan produk digital. Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan menjadi salah satu gagasan yang terus dikembangkan.
Menurut Andika, sebuah penelitian tidak cukup hanya menghasilkan gagasan. Produk yang lahir dari penelitian harus dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Baca Juga : Buku Disertasi Putra Aceh Singkil Dapat Dukungan Gubernur Aceh
“Menghasilkan produk yang didasari ide atau gagasan merupakan kenikmatan dalam penelitian. Namun, bagaimana produk tersebut dapat dipertanggungjawabkan melalui uji validitas para ahli, kelayakan dan keefektifan serta didukung oleh pemerintah, hal tersebut menuntut integritas peneliti,” kata Andika.
Ia menilai proses penelitian semestinya dimulai dari analisis kebutuhan. Dengan begitu, produk yang dikembangkan tidak hanya memenuhi kepentingan akademik, tetapi juga dapat dibuktikan manfaat dan keberlanjutan penggunaannya.
Dari Aceh Singkil ke Panggung Internasional
Baca Juga : LMND Desak DPRK Aceh Singkil Gunakan Hak Angket, Nilai Jawaban Bupati di Forum Interpelasi Normatif
Jarak geografis Aceh Singkil dari pusat pendidikan nasional tidak membuat Andika membatasi jejaring akademiknya. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan lintas daerah dan negara.
Pengalaman internasional diperolehnya ketika menjadi International Service Team (IST) pada World Scout Jamboree di Korea Selatan pada 2023. Ia bertugas di Media Center bersama peserta dan perwakilan dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membangun jejaring internasional. Relasi dan pengalaman yang diperoleh kemudian dikembangkan melalui berbagai kegiatan akademik dan pendidikan.
Baca Juga : Aceh Singkil Antar Kontingen Aceh Raih Dua Penghargaan di PENAS XVII Gorontalo
Kiprah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberadaan di daerah tidak harus menjadi alasan untuk membatasi ruang gerak seorang akademisi.
Aceh Singkil dapat menjadi basis untuk melakukan penelitian, mengembangkan inovasi pendidikan, membangun jejaring, sekaligus membawa gagasan ke ruang akademik nasional dan internasional.
Prestasi dan Tantangan Akademisi Daerah
Baca Juga : Dorong Iklim Investasi, Bupati Aceh Singkil Ikuti Rakornas Produk Hukum Daerah di Kendari
Deretan penghargaan yang diterima Andika juga membawa pertanyaan yang lebih besar tentang posisi perguruan tinggi di daerah.
Prestasi individu dapat menjadi modal penting, tetapi keberlanjutan ekosistem akademik tetap membutuhkan dukungan institusi dan pemerintah.
Penelitian, publikasi, inovasi pendidikan, serta pengembangan sumber daya manusia membutuhkan ruang dan dukungan agar tidak berhenti pada capaian personal.
Baca Juga : Penganugerahan Pendidikan Aceh Singkil, Puluhan Pelajar Berprestasi Raih Penghargaan
Dalam konteks itu, kiprah Andika dapat dibaca sebagai contoh bahwa potensi akademik tidak selalu terkonsentrasi di kota-kota besar. Daerah memiliki sumber daya manusia yang mampu menghasilkan karya ketika diberi kesempatan untuk berkembang.
Bagi Aceh Singkil, prestasi tersebut sekaligus menjadi cara lain memperkenalkan daerah. Nama Singkil hadir bukan hanya melalui persoalan geografis, pembangunan atau keterbatasan akses, tetapi juga melalui karya akademik dan inovasi pendidikan.
Pada akhirnya, penghargaan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah apa yang dihasilkan dari proses akademik tersebut dan sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan.
Baca Juga : Pemkab Aceh Singkil Diminta Tak Abai pada Prestasi Putra Daerah
Dari Aceh Singkil, Andika membawa gagasan ke berbagai forum. Melalui penelitian, ia mencoba melahirkan produk. Lewat jejaring akademik, ia membuka akses ke ruang yang lebih luas.
Prestasi itu menjadi pengingat bahwa pusat gagasan tidak selalu berada di kota besar. Dari daerah pun pengetahuan dapat tumbuh, dikembangkan, dan diperkenalkan ke dunia.