ACEH SINGKIL — Di usia ke-27 Kabupaten Aceh Singkil, persoalan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah.
Di Desa Serasah, Kecamatan Simpang Kanan, akses pendidikan justru mempertaruhkan keselamatan.
Sejumlah siswa di desa terpencil itu terpaksa menyeberangi sungai setiap hari menggunakan perahu kayu sederhana.
Jembatan penghubung antar kampung yang putus akibat banjir pada 2023 hingga kini belum juga dibangun kembali.
Arus sungai yang kerap deras, terutama saat hujan di hulu, tak menyurutkan langkah mereka.
Dengan perlengkapan seadanya, para pelajar tetap menyeberang demi mencapai sekolah yang berada di Desa Cibubukan, di seberang sungai.
Tak ada alternatif lain. Jalur air menjadi satu-satunya akses tersisa sejak jembatan gantung ambruk tiga tahun lalu.
Dalam video yang diterima pada Rabu, 29 April 2026, para siswa menyampaikan langsung keluhan mereka.
Mereka berharap pemerintah segera turun tangan membangun kembali jembatan tersebut.
Permintaan itu ditujukan kepada Prabowo Subianto, yang disampaikan melalui Pendamping Keluarga Harapan (PKH ) dari Kementerian Sosial, Wahyu Hidayat.
“Kami anak Desa Serasah yang sekolah di Desa Cibubukan harus pergi ke sekolah naik perahu karena jembatan putus sejak 2023 akibat banjir. Kami minta bantuan Presiden agar dibangun jembatan,” ujar para siswa dalam rekaman video.
Wahyu mengatakan kondisi tersebut menunjukkan keterisolasian Desa Serasah yang masih bergantung pada akses terbatas.
Putusnya jembatan tak hanya menghambat pendidikan, tetapi juga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Hingga kini, belum ada kepastian pembangunan kembali jembatan tersebut. Sementara para siswa tetap menyeberangi sungai setiap hari—membawa tas sekolah, sekaligus risiko—demi menjaga harapan akan masa depan.