ACEH SINGKIL – Pasokan gas elpiji tiga kilogram (gas melon) di Kabupaten Aceh Singkil mulai kembali normal setelah sebelumnya sempat mengalami kelangkaan yang menyebabkan harga di tingkat pengecer melambung hingga Rp35 ribu – Rp40 ribu per tabung.
Pantauan di sejumlah titik, termasuk wilayah Kecamatan Gunung Meriah, harga gas melon di pangkalan kini dijual Rp25 ribu per tabung.
“Alhamdulillah sudah normal lagi, Rp25 ribu per tabung,” ujar Winda, seorang ibu rumah tangga, Jumat (1/8).
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Aceh Singkil, Malim Dewa, mengatakan kelangkaan sempat terjadi akibat salah satu dari tiga distributor elpiji yang ada berhenti beroperasi.
“Samudera Energy Gemilang mengalami kerugian akibat kerusakan kendaraan pengangkut satu-satunya yang mereka miliki,” jelasnya.
Tiga distributor yang selama ini melayani kebutuhan gas melon di Aceh Singkil adalah Rizqi Bersaudara Gas, Dewi Lautan Rezeki, dan Samudera Energy Gemilang.
Berdasarkan data Disperindagkop dan UKM tahun 2024, total terdapat 160 pangkalan di kabupaten tersebut dengan total distribusi mencapai 904.590 tabung.
Rinciannya, Rizqi Bersaudara Gas memiliki 112 pangkalan dengan 511.280 tabung, Dewi Lautan Rezeki sebanyak 21 pangkalan (197.870 tabung), dan Samudera Energy Gemilang mengelola 27 pangkalan dengan distribusi 195.440 tabung.
Rata-rata per bulan, ketiga distributor menyalurkan sekitar 70 ribu tabung kepada masyarakat.
Ia juga mengingatkan kembali bahwa gas melon merupakan barang subsidi yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin.
“Jumlah penduduk Aceh Singkil sekitar 130 ribu jiwa, dan 25,5 persen di antaranya adalah warga miskin. Artinya, masih banyak warga mampu yang seharusnya tidak berhak menggunakan gas melon,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN), kepala desa, kepala dusun, dan perangkat pemerintahan lainnya yang digaji oleh negara sebaiknya tidak lagi menggunakan gas subsidi. Hal serupa juga berlaku bagi pedagang dengan penghasilan lebih dari Rp300 ribu per hari.
“Masih ada pangkalan yang mengantar hingga 10–15 tabung kepada pedagang. Ini harusnya menjadi perhatian perangkat desa dalam melakukan pengawasan, jika hanya mengandalkan kami dinas, maka tidak akan dapat mengkover seluruhnya,” kata Malim Dewa.
Dalam kesempatan tersebut, Malim juga menyambut baik kabar rencana pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Kota Subulussalam oleh pengusaha sekaligus Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon.
“Jika benar akan dibangun, kita sangat bersyukur karena ini akan sangat membantu masyarakat dalam jangka panjang,” pungkasnya.