You are currently viewing Ngopi di “Lampung” Serasa di Singkil Tempo Dulu

Ngopi di “Lampung” Serasa di Singkil Tempo Dulu

Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Mencari tempat menikmati secangkir kopi dengan suasana tempo dulu bukan perkara gampang di Aceh Singkil.

Warga setempat menyebutnya “Lampung” atau warung terapung diatas sungai. Terletak di Kampung Tanah Merah Kecamatan Gunung Meriah.

Lampung desainnya lesehan terbuka sebagai ruang utama. Dilengkapi dengan ruang shalat, dapur dan kamar mandi yang berada disisinya.

Keberadaanya bisa dibilang legend, Lampung berdiri perkiraan sejak tahun 1962 hingga kini masih tetap eksis. Namun sudah jarang ditemui keberadaannya.

“Merupakan satu-satunya lampung yang tersisa di Aceh Singkil,” kata Abdul Karim Bancin, pemilik lampung saat ditemui, Rabu 21 September 2022 lalu.

Abdul Karim menyebut jika lampung ini dulunya dipakai sebagai tempat pemberhentian maupun transit perahu warga.

Lampung, Desa Tanah Merah

Dikisahkannya, tempo dulu modal transportasi perahu menjadi pilihan utama masyarakat Aceh Singkil untuk beraktifitas bepergian.

“Dulu masyarakat Aceh Singkil tinggalnya di daerah aliran sungai, jadi transportasinya perahu, jalan darat masih susah,”

Seiring berjalannya waktu, keberadaan Lampung kini berubah fungsi menjadi tempat asik bagi warga untuk nongkrong sambil ngopi maupun bokom.

Bokom itu istilah bagi masyarakat Aceh Singkil untuk mi instan yang direndam dengan air panas tanpa direbus. Diracik dengan bumbu ditambah irisan bawang merah, cabe rawit dan jeruk nipis.

Warung Terapung diatas sungai

Pengunjung Lampung bervariasi, mulai dari dewasa, orang tua hingga kaum millenial.

“Tak jarang warga juga masih memfungsikannya sebagai tempat transaksi jual beli ikan,” ujarnya.

Arsitektur Lampung dipertahankan keorisinilannya, meski terdapat beberapa bagian yang diganti karena kayunya lapuk. Ini yang membuatnya tetap otentik.

Lampung berdiri diatas kayu keras atau kayu sengketen (warga menyebutnya), dengan dinding kayu dan atap rumbia, mengapung menyesuaikan pasang surutnya sungai.

Berukuran lebih kurang 25 x 10 meter, terdiri atas ruang utama sebagai tempat berkumpul, kamar tempat shalat, dapur dan dilengkapi jamban berskat.

Lampung ini buka setiap hari, sejak pagi hari hingga malam, sekira pukul 12 malam. “Bagi warga yang dulunya tinggal dipinggiran sungai jika mau bernostalgia silahkan datang, jangan sampai jam 12 malam,” katanya.

Selain warga, sejumlah pejabat juga pernah mampir ke lampung ini seperti Mantan Bupati Dulmusrid dan wakilnya Sazali, Ketua DPRK Aceh Singkil dan bahkan turis asing.

“Waktu itu ada turis asing yang singgah, saat mereka hendak melihat buaya di sungai Singkil,” ujarnya.

Abdul Karim mengaku akan terus melestarikan Lampung, selama orang masih terus datang. “Selama masih ada yang datang, kalau tidak ada lagi mungkin akan ditutup,” sebutnya.

Salah seorang pengunjung, Kamaludin menyebut jika nyeduh kopi di Lampung itu menyuguhkan suasana yang berbeda.

“Sruttttt……(diminumnya kopi), berada diatas air serasa di Singkil tempo dulu,” kata Kamal yang sedang menikmati kopi kala itu.

Pengunjung sedang menyeduh kopi di Lampung yang berada di Kampung Tanah Merah Kecamatan Gunung Meriah

Sebagai kaum millenial, ia mengajak anak muda yang lain untuk datang melihat dan menikmati kopi kampung disini, sembari mengenang kehidupan masa lalu warga Singkil.

Share

Tinggalkan Balasan