Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Seorang kakek berusia 66 tahun, di Kabupaten Aceh Singkil, hidup sebatang kara di rumah yang kondisinya memprihatinkan.
Kakek tua ini bernama Kakek Latib merupakan warga Desa Perangusan Kecamatan Gunung Meriah. Istrinya sudah lama berpisah, sementara Ia tak memiliki anak.
Rumah yang ditempatinya selama 10 tahun ini, kini telah lapuk dimakan usia dan membahayakan. Sekilas terlihat masih kokoh, namun kondisi sebenarnya sangat memprihatinkan.
Rumah berukuran 2×4 meter ini beratap rumbia, berlantai tanah dan berdinding papan kayu yang sudah mulai lapuk.
Melihat kedalam rumah. Kondisi rumah diskat menjadi dua bagian. Bagian depan digunakan untuk tempat tidur. Tempat tidurnyapun hanya beralaskan papan yang dilapisi tikar tipis. “Sering masuk angin, tapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya sambil senyum-senyum.
Sementara pada bagian belakang, digunakannya sebagai tempat memasak dan keperluan lain. Untuk lampu penerangan rumah, mengandalkan bantuan dari tetangganya.
Dirinya hanya bisa pasrah melihat kondisi rumah yang ditempatinya dalam keadaan lapuk dan mengkhawatirkan.
Jangankan untuk memperbaiki rumah secara total, untuk makan sehari hari saja, dirinya mengharapkan pemberian dari orang lain yang merasa iba kepadanya.
“Untuk mandi, mencuci dan BAB menumpang kerumah tetangga dekatnya. Untuk makan sehari-hari ya dari tetangga ataupun sanak familinya,” kata Kakek dengan suara lirihnya ketika dijumpai, Kamis 16 Juni 2022 sore.
Bahkan kata Dia, rumah yang ditempatinya tersebut berada ditanah milik tetangganya, tokoh masyarakat setempat H Bahaudin. “Atas kebaikan beliaulah saya bisa disini,” ungkapnya.
Kendati demikian, Ia mengaku, sebenarnya memiliki tanah berukuran sekira 6 meter peninggalan orang tuanya dulu. Letaknya tak jauh dari rumahnya saat ini, agak kebelakang dari jalan. Lantaran bagian depan sudah ditempati oleh famili lain.
Impian Kakek Latib, tidaklah banyak. Ia hanya ingin suatu saat dapat memiliki rumah yang layak huni. “Semoga Allah SWT meridohinya,” tutupnya.
Kakek Latib sendiri sebenarnya merupakan salah satu penerima bantuan pangan non tunai atau BPNT. Terkait kerusakan rumahnya, sejauh ini belum ada dinas terkait yang membantu.
“Setahu saya belum ada dari dinas terkait turun melihat kondisi rumah Kakek Latib,” Kata Kepala Dusun setempat, Sahnul yang kebetulan menamaninya sore itu.
Melihat kondisi rumah kakek Latib yang cukup memprihatinkan, pemerintah desa sebenarnya sudah mencoba mengajukan bantuan kepada dinas terkait.
“Sudah pernah diusulkan oleh Kepala desa yang lama kepada dinas terkait, sekira tahun 2018-2019 namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda terealisasi,” kata Kepala Desa Perangusan, Darma Arifin yang baru menjabat lima bulan.
Sementara jika dibebankan menggunakan dana desa, kata Darma, anggaran tidak mencukupi, terlebih saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. “Sejauh ini kami juga sedang mencoba untuk mengajukan kembali permohonan bantuan,” ungkapnya.
Darma berharap, siapapun baik dinas terkait, para pejabat ataupun anggota dewan, agar dapat membantu Kakek Latib mewujudkan impiannya, memiliki rumah yang layak huni. (Hab)