ACEH SINGKIL — Kekecewaan disampaikan orang tua siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Al-Fansury Singkil setelah anaknya yang dinilai berprestasi tidak masuk dalam daftar siswa penerima apresiasi dan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.
Kekecewaan tersebut disampaikan Novita Hijrah melalui unggahan di media sosial Facebook. Berita Xtra telah meminta izin untuk mengutipnya.
Dalam unggahannya, Novita mengaku berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang telah memberikan apresiasi kepada para siswa berprestasi dalam rangkaian malam pentas seni HUT ke-81 RI di Alun-Alun Kota Singkil.
Namun, ia menyayangkan masih ada siswa berprestasi yang disebut tidak mendapat penghargaan, termasuk anaknya, Fawwaz Javier Syafri.
Baca Juga: Penganugerahan Pendidikan Aceh Singkil, Puluhan Pelajar Berprestasi Raih Penghargaan
Menurut Novita, Fawwaz merupakan siswa SLBN Al-Fansury Singkil yang telah beberapa kali meraih juara di tingkat provinsi dan mengikuti kompetisi hingga tingkat nasional.
Meski belum berhasil menjadi juara nasional, keberadaan SLBN Al-Fansury disebut telah membawa nama Aceh Singkil dalam berbagai ajang.
“Namun kami merasa sedih dan kecewa karena masih ada siswa yang berprestasi yang beberapa kali telah meraih juara di provinsi bahkan telah mengikuti kejuaraan ke tingkat nasional,” tulis Novita dalam unggahannya.
Novita mempertanyakan alasan anaknya tidak dipanggil maupun diberikan apresiasi. Ia menyebut pihaknya mendapat alasan bahwa SLB Al Fansyuri tidak berada di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.
Baca Juga: Aceh Singkil Antar Kontingen Aceh Raih Dua Penghargaan di PENAS XVII Gorontalo
Padahal, menurut dia, saat pengumuman di tingkat provinsi, SLBN Al-Fansury disebut berasal dari Kabupaten Aceh Singkil. Para siswanya juga merupakan putra-putri daerah Aceh Singkil.
“Alangkah sayangnya siswa dari SLB yang berprestasi tersebut yang telah mengharumkan nama Kabupaten Aceh Singkil tidak dipanggil serta tidak diberi apresiasi,” tulisnya.
Unggahan tersebut juga mendapat tanggapan dari Sam’un NST yang turut mengungkapkan kekecewaannya.
“Sangat saya sayangkan juga tidak datang padahal sudah dipanggil diatas panggung , mohon izin buk bukan kami tidak perduli dengan kesibukan saya harus ada lah yang pro aktif tanyakan pada anggota kami atau mendatangi kami, dan mohon maaf juga bukan menjastis seperti yg di tuliskan di akun ibu ini yang kebenaran belum ibu terima secara utuh, kami bukan mengada-ngada, ini bukti bahwa penghargaannya ada,” tulis Sam’un dalam kolom komentar.
Sam’un juga menyebut bukan hanya, Fawwaz saja yang tidak hadir melainkan ada 11 anak lagi malam itu belum terkonfirmasi.
“Jadi insyaallah akan kami cari waktu untuk dikhususkan untuk anak-anak kami,” lanjutnya.
Baca Juga: Polres Aceh Singkil Raih Dua Penghargaan di Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-70
Novita mengatakan, apabila Fawwaz memang tercatat sebagai penerima penghargaan, seharusnya pihak terkait menyampaikan pemberitahuan kepada sekolah untuk kemudian diteruskan kepada orang tua.
“Kalau memang anak kami menerima suatu penghargaan, zaman teknologi seperti ini kan bisa melalui internet, melalui WA kepada gurunya dan diteruskan kepada kami sebagai wali murid. Kan bisa kami hadir,” ujar Novita.
Novita mengaku jika dirinya pada malam penganugerahan berada di lokasi acara. Akan tetapi dirinya sama sekali tidak mendengar nama anaknya di panggil.
“Saya sama sekali tidak mendengar jika nama Fawwaz dipanggil malam itu,” jelasnya.
Baca Juga:Disdikbud Harap UAS Bisa Tingkatkan Mutu Pendidikan di Aceh Singkil
Novita juga membantah telah menerima telepon dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil.
Menurut dia, apabila benar ada panggilan telepon yang tidak terjawab, dirinya akan menghubungi kembali. Namun, ia mengatakan tidak menemukan adanya panggilan tersebut.
“Kalau ada dan tidak diangkatkan, otomatis saya akan telepon balik. Ini sama sekali tidak ada,” ujarnya.
Terkait sertifikat yang katanya telah dicetak, Novita tetap mempertanyakan penjelasan tersebut.
Ia mengatakan keberadaan sertifikat yang disebut telah dicetak sejak awal belum menjawab persoalan utama, yakni mengapa dirinya tidak mengetahui bahwa Fawwaz tercatat sebagai penerima penghargaan.
Baca Juga: Kabid Disdikbud Aceh Singkil Ikut Demo, Pemerhati Sebut Aksi Tak Murni
Ia bahkan mempertanyakan perbedaan bentuk map sertifikat yang ditunjukkan kepadanya.
“Kalau sertifikat penghargaan sudah tercetak, itu sah-sah saja. Seketika bisa print setelah mungkin persoalan ini jadi viral,” ungkap Novita.
Ia mengatakan map yang terlihat pada sertifikat yang ditunjukkan kepadanya berwarna cokelat. Sementara map yang digunakan pada malam penganugerahan, menurut dia, bermotif batik.
“Map-nya cokelat. Sementara map malam itu, map-nya warna batik. Sampai segitu detailnya saya perhatikan,” ujarnya.
Menurut Novita, keluarga merasa sedih karena prestasi Fawwaz bukan hanya sekali.
Ia menyebut anaknya pernah meraih juara dua bidang desain grafis serta juara satu tingkat provinsi dalam bidang teknologi informasi menggunakan Microsoft Excel.
“Ini bukan satu kali dua kali anak kami juara. Itu yang membuat kami sangat sedih,” katanya.
Novita juga menilai prestasi siswa penyandang disabilitas semestinya mendapat perhatian yang sama.
Baca Juga: Stop BABS, Aceh Singkil Raih Penghargaan Open Defecation Free
Ia mengatakan dirinya bersama para guru selama ini terus mendampingi Fawwaz agar kemampuannya berkembang dan dapat membawa nama sekolah maupun daerah.
Menurutnya, prestasi anak-anak penyandang disabilitas juga penting untuk memberikan motivasi kepada orang tua lainnya agar tidak minder menyekolahkan anak mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
“Anak disabilitas itu sebenarnya potensinya banyak juga. Contohnya seperti anak saya. Dia bisa berprestasi dan beberapa kali membawa nama daerah,” ujarnya.
Baca Juga: Kadisdik Aceh Singkil Janji Bantu Guru TK yang Belum Sertifikasi
Novita mengatakan pihak sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru, sebelumnya telah menyampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil bahwa terdapat siswa SLBN Al-Fansury yang berprestasi.
Karena itu, ia mempertanyakan ketika Fawwaz tidak hadir dalam prosesi penghargaan.
“Sebelum acara itu diadakan, guru dan kepala sekolah sudah memberikan informasi bahwa anak kami ada yang berprestasi. Seharusnya nama anak kami masuk catatan,” katanya.
Ia juga menyoroti alasan bahwa SLBN Al-Fansury berada di bawah kewenangan Pemerintah Aceh.
Menurut Novita, meski pengelolaan sekolah berada di tingkat provinsi, siswa yang berprestasi tetap merupakan putra-putri Kabupaten Aceh Singkil.
“Walaupun sekolahnya di bawah provinsi, anak-anaknya adalah anak daerah Kabupaten Aceh Singkil. Bahkan ketika diumumkan di tingkat provinsi, disebut SLB Al-Fansyuri Singkil dari Kabupaten Aceh Singkil,” ujarnya.
Novita mengaku sengaja menyampaikan kekecewaannya melalui Facebook dan menandai akun Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, Sam’un NST, karena berharap persoalan tersebut mendapat perhatian.
Disdik: Fawwaz Sudah Dipanggil
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, Sam’un NST, memberikan penjelasan berbeda.
Ia mengatakan Fawwaz sebenarnya telah tercatat sebagai penerima penghargaan dan sertifikatnya sudah selesai dicetak.
Sam’un juga menyebut Fawwaz telah dipanggil ke atas panggung. Namun, siswa tersebut tidak hadir saat namanya dipanggil. Menurutnya ketidakhadiran Fawwaz bukan berarti pemerintah daerah mengabaikan prestasinya.
“Sertifikatnya sudah selesai dicetak dari awal dan dipanggil lagi di panggung. Tapi mungkin karena acaranya dadakan, ada yang terlupa,” kata Sam’un saat dihubungi.
Sam’un juga menyebut pihaknya sempat berupaya menghubungi pihak terkait. Namun, menurut dia, telepon yang dilakukan pada sore hari tidak diangkat sehingga anggota yang ditugaskan tidak kembali menghubungi.
“Kadang ditelepon sore tidak diangkat, terus anggota saya tidak menelepon lagi, karena kesibukan saya, harus ada yang proaktif tanyakan pada anggota kami atau mendatangi kami,” ujarnya.
Sam’un juga menunjukkan foto sertifikat penghargaan sebagai bukti bahwa nama Fawwaz memang tercatat sebagai penerima penghargaan.
Ia mengatakan bukan hanya Fawwaz yang tidak hadir dalam acara tersebut. Ada 11 siswa lain yang juga belum terkonfirmasi kehadirannya.
“Fawwaz bukan satu-satunya, ada 11 anak lagi malam itu belum terkonfirmasi. Insyaallah akan kami cari waktu untuk dikhususkan untuk anak-anak kami,” ujarnya.
Sam’un meminta persoalan tersebut tidak disimpulkan sebagai bentuk ketidakpedulian pemerintah daerah terhadap siswa berprestasi. Menurut dia, penghargaan bagi Fawwaz sudah disiapkan.
Di sisi lain, Novita berharap ke depan pemberitahuan kepada penerima penghargaan dapat dilakukan secara lebih jelas, termasuk melalui sekolah maupun orang tua, sehingga siswa berprestasi tidak kembali terlewat dalam prosesi penghargaan pemerintah daerah.