ACEH SINGKIL — Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) di Kabupaten Aceh Singkil terus dikebut.
Dari 116 desa, pembangunan telah dimulai di 94 titik. Sebanyak 23 titik di antaranya telah rampung 100 persen.
Komandan Kodim 0109/Aceh Singkil Letkol Kav M. Aminudin mengatakan pemerintah menargetkan seluruh desa memiliki Kopdes Merah Putih.
Koperasi itu diharapkan tidak hanya menjadi pusat kegiatan ekonomi desa, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
“Ketika KDKMP sudah beroperasi dengan bagus, mulai dari beras, telur, minyak, gas, harganya akan standar,” kata Aminudin saat ditemui di Makodim, Selasa, 18 Agustus 2026 sore.
Baca Juga: Kodim Aceh Singkil Buka Puasa Bersama Wartawan
Ia mencontohkan gejolak harga minyak goreng yang pernah terjadi.
Dengan distribusi kebutuhan pokok melalui KDKMP, pemerintah diharapkan lebih mudah mengendalikan harga di tingkat desa.
“Program dari Bapak Presiden ini sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan Kopdes Merah Putih dapat memangkas rantai distribusi barang kebutuhan masyarakat.
Dengan begitu, pemerintah memiliki instrumen untuk membantu mengendalikan harga di tingkat desa.
Seperti gas elpiji misalnya. Kopdes dapat membeli gas dalam jumlah tertentu dan kemudian menyalurkannya kembali melalui warung-warung kecil milik masyarakat.
Pola tersebut dinilai dapat mencegah permainan harga di tingkat pengecer.
“Misalnya bisa beli gas dengan jumlah 10, kemudian diritelkan oleh masyarakat di warung kecil dengan harga yang normal sehingga tidak terjadi pelambungan harga,” ujarnya.
Baca Juga: Kodim Aceh Singkil Peringati HUT ke-80 TNI, Tekankan Soliditas dan Kedekatan dengan Rakyat
Ia mengatakan keberadaan Kopdes juga tidak semestinya membuat pemilik warung kecil khawatir kehilangan pelanggan.
Menurut dia, koperasi justru dapat menjadi pemasok bagi warung-warung masyarakat.
“Jangan takut, jangan khawatir apabila KDKMP ini berjalan. Justru KDKMP bisa menjadi agen warung kecil masyarakat,” katanya.
Lahan Masih Jadi Kendala
Dari 116 desa di Aceh Singkil, masih terdapat sekitar 22 titik yang belum memiliki lahan siap bangun.
Aminudin mengatakan persoalan lahan menjadi salah satu kendala pembangunan Kopdes Merah Putih di daerah tersebut.
Sebagian besar desa, kata dia, tidak memiliki aset tanah yang bisa langsung digunakan.
Lahan hibah masyarakat kemudian menjadi salah satu solusi.
“Tanah desa itu tidak sampai 30 persen yang ada. Hampir rata-rata dari hibah masyarakat yang memiliki kepedulian untuk membangun KDKMP,” katanya.
Baca Juga: Rampung 100 Persen, TMMD ke-125 Kodim Aceh Singkil Resmi Ditutup
Lahan hibah tersebut harus memiliki dokumen dan kepastian status sebagai tanah desa sebelum pembangunan dapat dilakukan.
Sebanyak 23 Kopdes Merah Putih yang telah rampung tersebar di 11 kecamatan. Dua di antaranya berada di wilayah kepulauan.
Pembangunan di pulau menghadapi tantangan logistik.
Material seperti pasir dan batu harus didatangkan dari daratan menggunakan kapal atau perahu.
“Pasir, batu, semuanya dari darat kita angkut menggunakan kapal atau boat. Menyeberang laut kurang lebih 80 menit,” ujar Aminudin.
Untuk mengejar target, tenaga kerja didatangkan dari dalam dan luar Aceh Singkil dengan komposisi sekitar 50:50.
Pekerja juga harus lembur agar pembangunan dapat berlangsung setiap hari.
Baca Juga: Satgas TMMD Kodim Aceh Singkil Kerahkan Alat Berat Kebut Pembangunan Jalan
Aminudin berharap seluruh Kopdes Merah Putih dapat selesai pada akhir Agustus 2026.
Namun, ia mengakui target tersebut bergantung pada kondisi lapangan.
Bisa Kembangkan Usaha Sesuai Potensi Desa
Aminudin mengatakan Kopdes Merah Putih nantinya dapat mengembangkan usaha sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing desa.
Pengelola koperasi dituntut kreatif membaca potensi ekonomi lokal.
Ia mencontohkan Aceh Singkil yang memiliki banyak perkebunan sawit. Kopdes dapat mengembangkan usaha berupa tempat penampungan atau RAM sawit sehingga petani memiliki alternatif dalam menjual hasil kebunnya.
“Di tempat kita banyak kebun sawit. KDKMP bisa mendirikan RAM sawit, membeli dengan harga stabil, tidak dimainkan sama tengkulak,” katanya.
Baca Juga: Sambut HUT ke-80, Kodim 0109 Aceh Singkil Gelar Donor Darah
Menurut dia, model usaha Kopdes tidak harus seragam di setiap desa.
Kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi setempat menjadi dasar dalam menentukan jenis usaha yang akan dikembangkan.
“KDKMP kira-kira yang membutuhkan apa, KDKMP bisa masuk. Tergantung dari kreativitas manajer KDKMP,” ujarnya.
Kopdes juga dapat menjadi tempat pemasaran bagi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masyarakat yang mengalami kesulitan menjual produknya.
“Kalau ada UMKM masyarakat yang kesulitan menjualnya, bisa dititipkan ke KDKMP,” kata Aminudin.
Peluang Kerja bagi Warga Desa
Aminudin juga meminta pengurus dan anggota koperasi tidak khawatir dengan keberadaan manajemen KDKMP.
Menurut dia, masih tersedia banyak peluang kerja sesuai bidang masing-masing.
Ia menjelaskan, manajer KDKMP telah melalui proses penyaringan dan pembekalan untuk memastikan memiliki kemampuan dasar manajerial.
“Manajer ini sudah disaring khusus melalui tes khusus sehingga yang memenuhi syarat kemampuan kecakapan dasar untuk memimpin atau manajerial baru nanti akan menjabat,” katanya.
Baca Juga: Satgas TMMD Kodim Aceh Singkil Kebut Penyelesaian RTLH
Sementara tenaga pendukung lainnya dapat direkrut dari masyarakat setempat dengan mempertimbangkan kemampuan dan profesionalitas.
Posisi tersebut antara lain kasir maupun pekerjaan operasional lainnya.
“Tenaga lain untuk tambahan bisa diambil dari warga setempat, dengan syarat jujur dan bekerja profesional,” ujar Aminudin.
Dengan konsep tersebut, Aminudin berharap KDKMP tidak hanya menjadi tempat penyaluran kebutuhan pokok, tetapi berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi yang sesuai dengan potensi masing-masing desa.