ACEH SINGKIL — Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 dimanfaatkan Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) untuk menyoroti kondisi siswa di Desa Serasah, Kecamatan Simpang Kanan, yang masih harus menyeberangi sungai demi bersekolah.
Ketua AMPAS, Syahrul Manik, menegaskan praktik tersebut tidak boleh lagi terjadi karena membahayakan keselamatan siswa.
Ia menyebut kondisi ini sebagai cerminan belum meratanya akses pendidikan yang aman dan layak di daerah terpencil.
“Tidak seharusnya di era saat ini, anak-anak masih harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan pendidikan,” kata Syahrul dalam keterangannya, Ahad, 3 Mei 2026.
Para siswa dari Desa Serasah diketahui harus menuju sekolah di Desa Cibubukan dengan perahu setelah jembatan penghubung antar desa putus akibat banjir pada 2023 dan hingga kini belum diperbaiki.
Kondisi tersebut menjadi perhatian publik setelah video aktivitas siswa menyeberang sungai viral di media sosial.
Dalam video itu, para siswa juga menyampaikan harapan agar pemerintah segera membangun kembali jembatan, bahkan meminta perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Menurut AMPAS, peringatan Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi untuk memastikan seluruh anak mendapatkan akses pendidikan yang aman.
AMPAS mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera mengambil langkah konkret, termasuk percepatan pembangunan kembali jembatan penghubung Desa Serasah–Desa Cibubukan.
“Jika negara benar-benar hadir, maka tidak boleh ada lagi anak yang bertaruh nyawa demi sekolah,” ujar Syahrul.
Hingga kini, para siswa masih bergantung pada perahu sebagai satu-satunya akses menuju sekolah, sebuah kondisi yang dinilai tidak sejalan dengan semangat pemerataan pendidikan di Indonesia.