ACEH SINGKIL – Ikatan Pelajar Mahasiswa Singkil (IPMA Singkil) menunjukkan perubahan peran dari sekadar paguyuban mahasiswa daerah menjadi gerakan kemanusiaan yang aktif di Aceh.
Dalam usianya yang baru lebih dari satu tahun, organisasi ini turun langsung menyisir sejumlah wilayah terdampak bencana alam.
Aksi kemanusiaan tersebut dilakukan di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur.
Kehadiran IPMA Singkil di lapangan menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang terdampak krisis dan bencana.
IPMA Singkil bergerak bersama Aliansi Masyarakat Peduli Nanggroe yang melibatkan Cakrawala Muda Aceh dan Solidaritas Mahasiswa Pemuda Aceh (SMPA).
Kolaborasi ini memperkuat solidaritas lintas organisasi mahasiswa dalam merespons bencana.
Ketua Umum IPMA Singkil, Ari Jalu Suzain, mengatakan transformasi organisasi ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa tidak cukup hanya beraktivitas di ruang internal.
“IPMA Singkil kami dorong untuk hadir di tengah persoalan rakyat. Bencana adalah momentum bagi mahasiswa untuk mengambil peran kemanusiaan dan menunjukkan keberpihakan,” kata Ari dalam keterangannya, Rabu, 31 Desember 2025.
Ia menegaskan, usia organisasi yang masih muda bukan hambatan untuk berkontribusi secara nyata.
Menurutnya, nilai sebuah gerakan ditentukan oleh kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Sementara itu, Humas IPMA Singkil, Amsyardin Maulana Putra, menyebut aksi turun ke lapangan sebagai bentuk pembuktian bahwa paguyuban mahasiswa bisa bertransformasi menjadi ruang pengabdian sosial.
“Kami ingin mematahkan anggapan bahwa paguyuban hanya urusan silaturahmi. IPMA Singkil memilih jalan kerja nyata, turun langsung dan membersamai warga terdampak bencana,” ujarnya.
Melalui gerakan ini, IPMA Singkil berharap peran mahasiswa sebagai agen kemanusiaan semakin menguat, sekaligus menjadikan paguyuban mahasiswa sebagai kekuatan sosial yang relevan dan berdampak bagi masyarakat Aceh.