You are currently viewing Lagi Ditemukan Kasus, Setahun Aceh Singkil Sandang KLB Malaria
Ilustrasi gigitan nyamuk

Lagi Ditemukan Kasus, Setahun Aceh Singkil Sandang KLB Malaria

ACEH SINGKIL – Kasus malaria kembali muncul di Kabupaten Aceh Singkil. Penyakit yang disebabkan nyamuk Anopheles ini terdeteksi di Kepulauan Banyak.

Informasi ini dibenarkan oleh keluarga pasien yang saat ini telah dirujuk ke RSUD di Banda Aceh setelah sebelumnya dirawat di RSUD Aceh Singkil.

“Menurut diagnosis dokter, malaria berat,” kata Rostani, orang tua pasien saat dihubungi, Rabu, 14 Mei 2025.

Sekaligus membantah diagnosis sebelumnya yang menyatakan sakit yang diderita adalah gagal ginjal.

“Sebelumnya dinyatakan gagal ginjal, jadi itu tidak benar,” sambungnya.

Ia menyebut kondisi pasien berangsur membaik, tinggal menunggu hemoglobin (Hb) normal setelah sebelumnya mendapat transfusi darah.

“Mohon doanya semoga lekas sembuh dan bisa kembali beraktifitas,” harapnya.

Sementara itu Aceh Singkil genap setahun menyandang status kejadian luar biasa (KLB) malaria.

Status itu belum dicabut sejak ditetapkan pada 16 Mei 2024 lalu.

Terdapat dua kecamatan yang berstatus KLB malaria yakni Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil membenarkan jika status KLB malaria belum dicabut.

“Dua hari lagi ulang tahun status KLB ,” ujar Mursal saat ditemui wartawan, Rabu, 14 Mei 2025.

Data Dinkes Aceh Singkil menunjukkan terdapat 134 kasus sepanjang tahun 2024. Sedangkan tahun 2025 hingga April ada 30 kasus.

Menurutnya, pada tahun 2017 lalu, kedua kecamatan di Kepulauan Banyak itu sudah eliminasi malaria. 

Lantaran sudah dinyatakan bebas malaria, maka bila ditemukan kasus malaria baru penduduk setempat maka kemudian ditetapkan KLB. 

Diperlukan upaya yang komprehensif yang melibatkan deteksi dini kasus, pengobatan tepat waktu, pengendalian vektor, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Untuk itu Dinkes kedepan berencana akan melakukan rapid test malaria terhadap minimal 80 persen populasi penduduk di dua kecamatan tersebut.

Ia mengingatkan untuk menunjukkan derajat kesehatan masyarakat ada empat faktor yakni lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan.

“Sudah lingkungannya banyak kolam kecil sarang perkembangbiakan nyamuk, perilakunya malas membersihkan, kadang genetiknya memiliki faktor keturunan,” jelasnya.

Untuk itu ia mengajak warga untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sehingga lingkungan menjadi bersih dan terbebas dari status KLB.

Share

Tinggalkan Balasan