Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Kebutuhan pangan seperti beras untuk warga di Kabupaten Aceh Singkil masih bergantung dari kelancaran suplai beras dari daerah lain seperti Abdya, Medan dan lainnya.
Hasil produksi yang dihasilkan oleh petani Aceh Singkil masih sangat minim, tidak mampu mencukupi kebutuhan makan semua warga.
Penjabat Bupati Aceh Singkil Marthunis mengatakan Kabupaten Aceh Singkil tidak selalu disebut daerah konsumtif. Akan tetapi daerah ini mempunyai komoditas yang bukan komoditas pangan. Komoditas unggulan Aceh Singkil adalah kelapa sawit dan perikanan.
“Dengan potensi kelautan yang dimiliki, Aceh Singkil dapat self susstain (bisa diadakan sendiri),” kata Marthunis saat Diskusi Warta Pembangunan di Radio Xtra FM, Kamis 30 Maret 2023.
Ia mengatakan strategi untuk mengatasi ketergantungan bahan pangan dari luar daerah adalah dengan optimalisasi lahan yang ada dengan meningkatkan produktifitas maupun provitas masing-masing komoditas yang ditanam.
Diakuinya jika luasan sawah di Aceh Singkil saat ini rendah dan semakin menyempit. Hal ini perlu dijaga. Salah satunya dengan Peraturan Bupati (Perbup) dan Qanun yang mengatur tentang proteksi lahan pertanian pangan produktif.
“Perbup untuk proteksi lahan pertanian pangan produktif sudah ada, tapi memang kita masih melihat pengawalannya masih kurang,”
“Bahkan kita juga belum memiliki Qanun untuk perlindungan tanaman pangan yang berkelanjutan. Sedangkan di beberapa kabupaten lain sudah memiliki Qanun tersebut,” tambahnya.
Peraturan yang mengatur tentang proteksi lahan pertanian pangan produktif tertuang dalam Peraturan Bupati Aceh Singkil nomor 188.354/42/2020 tentang perlindungan lahan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Aceh Singkil.
Untuk itu pihaknya akan mendorong Dinas Pertanian dan DPRK agar dapat membahas bersama terkait dengan Qanun. Karena menurutnya Qanun akan lebih kuat daripada Perbup.
Marthunis mengatakan komoditas pangan lainnya seperti cabe merah dan bawang merah, pihaknya telah menjadikan itu sebagai target kinerja dari dinas terkait terutama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan.
“Dalam target kinerjanya mereka, saya sudah meminta berapa kebutuhan cabe merah dan bawang merah dalam setahun, apakah dengan lahan yang dimiliki itu berapa persen yang bisa disuplai,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang Ia dapat, sebenarnya Aceh Singkil mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama cabe merah.
Untuk memenuhi itu, dibutuhkan smart farming. Artinya kebutuhan harus diatur, panen dan tanam harus diatur sehingga cabe merah tetep tersedia setiap bulannya.
“Jangan seperti praktik sekarang ataupun yang lalu-lalu, begitu panen, putus dan harga murah, kemudian petani merugi dan akhirnya petani kapok dan tidak mau menanam kembali, terjadi kelangkaan dan harga cabai naik kembali,” imbuhnya.
Maka dari itu dirinya menekankan pentingnya ada usaha-usaha pertanian yang cerdas, yang dapat memprediksi harga yang win-win solution, mampu memberi keuntungan petani tapi pas dikantong konsumen.
“Itu yang harus dijaga melalui kesesuaian antara suplai komoditas dan demmand atau permintaan,” terangnya.
Marthunis menegaskan jika kebijakan pemerintah harus yang smart, memikirkan tidak hanya sekali saja, akan tetapi berkelanjutan dan diikuti serta pentingnya kolaborasi antara petani dan penyuluh pertanian.