Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Penjabat Bupati Aceh Singkil Marthunis melalukan panen ikan lele dengan sistem Bioflok di Kampung Pandan Sari Kecamatan Gunung Meriah, kemarin.
Marthunis mengatakan, jika kegiatan budidaya ikan lele dengan menggunakan sistem Bioflok ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Saya sangat bahagia melihat para pembudidaya ini bisa berhasil dalam memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah,” kata Marthunis.
Sehingga untuk kedepan kata dia, masyarakat bisa lebih mandiri lagi. Tidak bergantung dengan bantuan pemerintah.
“Kami menginginkan agar bantuan yang diberikan bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat serta tidak hanya sekali panen melainkan dapat berkembang dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perikanan Aceh Singkil, Saiful Umar mengatakan, panen ikan lele secara parsial ini menggunakan Dana Isentif Daerah (DID) tahun 2022. Dimana cara panen parsial ini biasa dilakukan pemanenan dengan mengambil sebagian lele yang ada di tambak saat siklus budidaya sedang berlangsung.
Panen parsial ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan populasi lele, meningkatkan produktivitas lele serta menekan biaya operasional budidaya.
Disebutkannya para pembudidaya ikan lele di Aceh Singkil yang dibantu oleh Dinas Perikanan melalui DID, sudah pernah panen.
“Alhamdulillah, para pembudidaya ikan lele sistem Bioflok yang ada di Aceh Singkil yang pernah kita bantu menggunakan DID rata-rata pernah panen. Ini menandakan bahwa pembudidaya ini sudah merasakan hasilnya,” katanya.
Lanjutnya, panen yang dilakukan hari ini ialah memanen ikan lele sebanyak 1,4 ton dengan persentase pertumbuhan sebanyak 80 persen.
Disamping itu, menurutnya jika melihat pangsa pasar, permintaan ikan lele sangat tinggi namun pasokan ikan lele di daerah tidak begitu banyak.
“Nah permintaan pasar inilah yang akan kita kejar, kita berharap dengan adanya bantuan ini jangan terhenti disini melainkan harus terus berkelanjutan,” harapnya.
Sementara Misnadi, pembudidaya ikan lele dengan sistem Bioflok yang baru saja dipanen Pj Bupati mengatakan, kali ini dirinya memperoleh hasil panen sebanyak 1,4 ton ikan lele.
Panen ikan lele ini bertahap. Kata dia, untuk mendapatkan hasil panen sebanyak itu, Ia butuh waktu hingga 75 hari atau dua bulan setengah. Dimulai dari usia tebar dari 0-30 hari, 15-20% dari total populasi, usia tebar 0-60 hari 60% dan usia tebar 0-75 hari 20%.
Berkat ketelatenan dan keuletanya, Ia pun sukses merintis usaha yang telah ditekuni sejak 2019. Di mana ide awal menekuni ternak lele ini berawal dari program CSR dari PT PLB Astra.
“Pada saat itu diberi dua unit kolam Bioflok dan diberikan pelatihan kemudian perlahan berkembang, alhamdulillah sampai dengan sekarang,” katanya.
Menurutnya, dengan sistem bioflok akan menghemat tempat dan dengan sitem Bioflok akan mempercepat besar lele dan memperpendek masa panen lele.
Ia biasa menjual ikan lele tersebut kepada warga yang hendak hajatan dan ke beberapa pengepul air tawar lokal serta ada yang dibuat produk turunannya sebagai olahan kuliner.
“Harga ikan lele ini fluktuatif, sekarang di pasar harganya mencapai Rp27 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Sementara kalau dijual ke pengepul bekisar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram,” sebutnya.
Saat ini kata dia, usahanya sudah memiliki omzet hingga Rp40 juta per 75 hari atau dua setengah bulan untuk tiga kali panen. Setelah dipotong biaya pembelian bibit, pakan, listrik dan dua orang pekerja. Maka Ia akan mendapat omzet bersih sekitar Rp20 juta.