You are currently viewing Kematian Ibu dan Bayi di Aceh Singkil Tinggi, Pj Bupati Minta Mutu Pelayanan Kesehatan Ditingkatkan

Kematian Ibu dan Bayi di Aceh Singkil Tinggi, Pj Bupati Minta Mutu Pelayanan Kesehatan Ditingkatkan

  • Post author:
  • Post category:Daerah
  • Post comments:0 Comments

Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Tingkat kematian ibu dan anak di Kabupaten Aceh Singkil selama tahun 2022 cukup tinggi.

Hal ini terungkap saat rapat koordinasi dalam rangka meningkatkan pelayanan ibu dan anak serta percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi di ofroom Kantor Bupati Aceh Singkil, Jumat, 17 Februari 2023.

Rapat dipimpin Pj Bupati Aceh Singkil Marthunis, dihadiri Kepala Dinas Kesehatan, Subarsono berserta jajaran terkait, dan para kepala puskesmas.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil menunjukkan ada delapan kematian ibu, sementara kematian bayi mencapai 48 kasus.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Aceh Singkil Fandrik Eraliesa mengatakan, terdapat berbagai penyebab tingginya tingkat kematian ibu dan bayi.

Diantaranya akibat kondisi yang terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses kelahiran atau asfiksia, akibat peradangan paru-paru akibat infeksi virus atau bakteri atau pneumonia dan akibat berat bayi pada waktu lahir kurang dari 2500 gram atau BBLR.

Persoalan lainnya kata Fandrik, disebabkan oleh persalinan tenaga kesehatan (Nakes) tinggi tapi persalinan di fasilitas kesehatan masih rendah, kualitas SDM Nakes atau bidan tentang pemeriksaan ANC (Antenatal Care) berkualitas dan penanganan kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

Kemudian, dari 12 puskesmas yang ada, lima diantaranya puskesmas rawat inap tidak ada yang mampu Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Selanjutnya, faktor budaya dan karakteristik masyarakat serta kepercayaan masyarakat terhadap bidan masih rendah.

Pj Bupati, Marthunis dalam arahannya mengatakan bahwa satu saja kematian ibu atau bayi baginya menjadi sebuah isu besar.

“Persoalan kematian ibu dan bayi ini menjadi sebuah indikator yang sangat penting, karena bagi saya satu orang saja meninggal, itu sudah menjadi isu besar, kejadian yang luar biasa,” ujarnya.

Ia meminta kepada Dinas Kesehatan dan stakeholder terkait untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dalam percepatan penurunan kematian ibu dan bayi.

Diantaranya Dinkes harus membuat Root Cause Analysis (RCA) sebagai roapmap yang jelas dan detil, dibuat rencana kerja dan jadwal merujuk dari permasalahan-permasalahan yang sudah diidentifikasi termasuk permasalahan di rumah sakit.

“Dinkes juga harus membangun komunikasi dan berkoordinasi dengan RSUD untuk mendata fasilitas apa saja yang dibutuhkan oleh RSUD yang dapat berkontribusi dalam rangka percepatan penurunan kematian ibu dan bayi,” ungkapnya.

Selanjutnya, surveilance atau pengawasan untuk posyandu perlu dibuat oleh Dinkes dan disebarkan sampai ke kecamatan dan puskesmas sehingga ketika posyandu, petugas turun ke lapangan sudah lengkap, tidak ada yang kurang.

“Dinkes harus berkoordinasi dengan PKK desa atau bisa dibuat format pantau untuk memastikan pelaksanaan posyandu di desa dapat berjalan dengan baik,”

Kemudian, untuk percepatan klaim insentif persalinan Nakes yang ada di puskesmas diharapkan paling lambat satu bulan sudah cair.

Dinas Kesehatan juga diminta untuk menyampaikan informasi dan data yang akurat setiap bulan terkait dengan kematian ibu dan bayi.

“Saya ingin diberikan data yang akurat setiap bulannya, data itu harus diinformasikan dan jangan disembunyikan, dan jangan takut menyampaikan data, karena dari data inilah kita bisa mencari solusi terbaik dan cepat dalam menyelesikan permasalahan yang ada,” ungkapnya.

Disamping itu, Bagian Kesehatan Masyarakat Setdakab juga diminta membuat surat himbauan agat setiap persalinan harus dilakukan di fasilitas kesehatan dan disebarkan ke semua kepala desa.

Share

Tinggalkan Balasan