ACEH SINGKIL – Ndelabakh Manuk, panganan tradisional Kabupaten Aceh Singkil mulai tergerus perkembangan zaman.
Ndelabakh Manuk biasa disebut juga ayang ayam terbuat dari olahan ayam kampung jantan yang belum tumbuh taji, berumur tujuh sampai delapan bulan.
Cara memasaknya cukup mudah, pertama, ayamnya di panggang lalu di suir-suir dan dicampurkan dengan kelapa gongseng dibumbui dengan rempah-rempah.
Sebagian masyarakat mempercayai penggunaan ayam jantan pada menu ini dimaksudkan agar anak dari ibu yang mengkonsumsi Ndelabakh ini bisa tumbuh lebih kuat, lebih gesit dan lebih berani seperti sifat ayam jantan pada umumnya
Panganan tradisional ini biasa disajikan pada saat akan memasuki masa “Ketakhing” atau setelah masa persalinan bagi seorang ibu.
“Ketakhing atau masa nifas adalah masa berpantang bagi seorang ibu yang baru melahirkan. Yang diberikan makanan Ndelabakh Manuk. Dan ini menjadi makanan khas adat Singkil sejak zaman dahulu,” kata Zakirun Pohan, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Singkil, Jumat, 29 November 2024.
Ia mengungkapkan MAA akan kembali mengangkat dan memperkenalkan beragam kuliner tradisional Aceh Singkil, yang kini mulai terlupakan.
Sehingga harapannya, agar bisa kembali diketahui masyarakat dan khususnya diperkenalkan kepada para generasi muda agar bisa terus dilestarikan.
Sajian Ndelabakh Manuk saat masa Ketakhing biasanya dari sekitar pukul.07:00 WIB sampai dengan Pukul.17:00 WIB para ibu akan menjalani hari-harinya dekat dengan perapian selama 40 hari.
Dan perapian ini sudah dirancang dan dikhususkan untuk menghangatkan badan serta dilarang mengkonsumsi makanan tertentu atau yang menjadi pantangan.
Kemudian, setelah dua atau tiga hari pasca melahirkan dan lepas dari perawatan bidan kampung atau bidan desa, pihak keluarga akan melaksanakan kenduri kundul Ketakhing (berdoa memasuki masa ketakhing).
Kenduri ini dilaksanakan untuk memanjatkan doa kepada yang maha kuasa agar si ibu dan bayinya sehat dalam menjalani masa ketakhing selama 40 hari ke depan.
Ndelabakh Manuk ini diberikan kepada ibu bayi sebagai wujud kasih sayang keluarga, agar si ibu dapat memanjakan lidah “peneppuh babah” (dalam bahasa kampungnya).
Karena setelah masuk masa Ketakhing makanan yang dapat dikonsumsi oleh si ibu sangat terbatas seperti ikan panggang, ikan goreng, sayur bening atau makanan sejenis yang tidak mengandung cabai, santan dan bahan-bahan yang dilarang lainnya.
Ndelabakh Manuk kata dia, biasa disajikan kombinasi dengan kue Nditak Matah sebagai menu makanan pokok yang mengandung karbohidrat.
Nditak Matah ini merupakan sejenis kue yang terbuat dari tepung beras yang mentah (tanpa dimasak), dicampur dengan kelapa parut, gula dan garam secukupnya disesuaikan dengan selera.
Setelah mengkonsumsi makanan ini, diharapkan si ibu dapat menahan selera terhadap makanan yang dipantangkan selama masa ketakhing dan tidak akan meminta makanan lain selain yang diperbolehkan.
Makanan ini juga dipercaya dapat mempercepat dan melancarkan produksi Air Susu Ibu (ASI). Hingga kini sebagian masyarakat pesisir Singkil masih melakukan kebiasaan itu.