ACEH SINGKIL – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Singkil meminta Pemerintah Aceh kembali menempatkan dai atau penyuluh agama di wilayah kepulauan, khususnya Desa Suka Makmur, Kecamatan Pulau Banyak Barat.
Ketua PCNU Aceh Singkil, Muhammad Yusuf mengatakan keberadaan dai sangat dibutuhkan untuk memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat, terutama para mualaf di wilayah tersebut.
“Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026 ini, kami meminta Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Syariat Islam dan Kementerian Agama, kembali menempatkan dai atau penyuluh agama di Desa Suka Makmur,” kata Muhammad Yusuf usai mengikuti upacara Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Darul Falah Az-Zamzamiyah, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: PCNU Aceh Singkil Gelar Pengajian Aswaja di Pulo Sarok
Ia mengatakan Desa Suka Makmur telah mengalami kekosongan dai atau penyuluh agama selama sekitar satu hingga dua tahun, setelah adanya pengangkatan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Menurut Yusuf, kondisi tersebut membuat pembinaan keagamaan masyarakat, termasuk para mualaf, tidak berjalan optimal.
“Semenjak adanya pengangkatan PPPK, berarti sekitar satu atau dua tahun lebih sudah tidak ada lagi penyuluh agama atau dai perbatasan yang bekerja untuk membina, menguatkan keyakinan serta mengajar anak-anak dan masyarakat yang ada di Desa Suka Makmur,” ujarnya.
Baca Juga: PCNU Aceh Singkil Gelar Rapat Pengurus Pasca Mukhtamar NU ke-35
Yusuf menilai kebutuhan dai semakin penting karena Desa Suka Makmur merupakan wilayah kepulauan yang memiliki akses cukup jauh dari daratan Aceh Singkil.
Selain itu Desa Suka Makmur ini berada di kepulauan terluar yang berbatasan laut dengan Pulau Nias, Sumatra Utara.
Perjalanan dari Singkil menuju Pulau Banyak membutuhkan waktu sekitar empat jam. Setelah tiba di Pulau Banyak, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan boat sekitar satu jam menuju Desa Suka Makmur.
Baca Juga: PCNU Aceh Singkil Serahkan SK LTN NU
Menurut Yusuf, kondisi geografis tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pemerintah menempatkan dai di wilayah terluar, sehingga pembinaan agama dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada kunjungan dari wilayah daratan.
Ia mengatakan di kawasan tersebut juga terdapat potensi pembinaan terhadap masyarakat mualaf dari desa-desa sekitar.
Namun, setelah tidak lagi adanya dai atau penyuluh agama, mereka dinilai kehilangan sosok yang dapat menjadi pembimbing dan teladan dalam kehidupan keagamaan.
“Mereka seperti kehilangan binaan, tokoh uswatun hasanah ataupun guru. Kalau kita tidak menghadirkan kembali, tentu mereka akan kehilangan pegangan,” ujarnya.
Karena itu, PCNU Aceh Singkil meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam maupun Kementerian Agama mencari solusi untuk kembali menghadirkan penyuluh agama atau dai di Desa Suka Makmur.
Yusuf mengatakan mekanisme penempatan dapat disesuaikan dengan kewenangan pemerintah, baik melalui pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten.
“Bagaimanapun teknis dan cara penempatannya, kami minta penyuluh agama kembali dihadirkan, baik melalui Dinas Syariat Islam maupun Kementerian Agama, provinsi ataupun kabupaten,” katanya.
Ia berharap momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi perhatian bagi pemerintah untuk memperkuat pembinaan keagamaan di wilayah kepulauan dan perbatasan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan secara rutin.
Menurutnya, kehadiran dai tidak hanya penting untuk menyampaikan pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat akidah, membina generasi muda, serta mendampingi masyarakat mualaf agar memiliki pemahaman dan pegangan keagamaan yang kuat.

Komentar
Belum ada komentar.