Aceh Singkil, Xtrafmsingkil.com – Sumber daya perikanan di perairan laut Kabupaten Aceh Singkil baru tergarap 11.802 ton per tahun, atau 40 persen dari potensi yang ada.
“Kita memiliki stok lestari mencapai 290.150 ton/tahun, tetapi saat ini belum tergarap secara optimal,” kata Kepala Dinas Perikanan Aceh Singkil Saiful Umar saat diskusi Warta Pembangunan di Radio Xtra FM, Selasa 11 April 2023.
Ia mengatakan, perairan laut Kabupaten Aceh Singkil cukup luas. Namun potensi perikanannya belum tergarap secara optimal.
“Jadi masih sangat terbuka peluang di sektor perikanan tangkap laut bagi pelaku usaha perikanan,” katanya.
Menurut dia, ini menjadi salah satu tantangan bagaimana sektor perikanan menjadi sektor andalan yang dapat memberikan kontribusi bagi daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat. Demikian juga di daratan, perlu pengembangan sektor budidaya air tawar dan air payau.
Untuk mengoptimalkan sumber daya perikanan tangkap tersebut, diperlukan adanya modernisasi alat tangkap nelayan.
Serta modernisi armada penangkapan ikan. Dimana selama ini didominasi oleh perahu kecil yang mana jarak jangkau dan durasi melaut sangat terbatas menyebabkan hasil tangkap rendah jika dibandingkan dengan kapal besar.
“Termasuk alat bantu, pelatihan atau bimbingan teknis terhadap nelayan dan memfungsikan tempat pendaratan ikan di anak laut (PPI Anak Laut), “imbuhnya.
Berdasarkan informasi pada tahun ini PPI Anak Laut mendapat kucuran dana dari pemerintah untuk pengerukan muara supaya kapal besar dapat mendarat.
Melalui Dana Insentif Daerah (DID) Dinas Perikanan memberikan bantuan sarana dan prasarana yang dapat langsung berdampak pada peningkatan usaha pada sektor perikanan, baik laut, sungai maupun darat.
Sebanyak 592 warga terdiri dari perikanan tangkap, pembudidaya, pengolahan ikan dan penangkapan ikan memperoleh bantuan, yang sudah terverifikasi dan layak.
Diantaranya mesin, GPS, jaring, bibit ikan nilai, lele dan ikan kakap putih beserta pakan, mesin pakan ikan, cool box, oven lele dan mesin penggilingan daging ikan.
“Alhamdulillah ini sudah tersalurkan, kita akan pantau secara berkala bantuan sarana dan prasarana, tidak saja batas output tapi outcampnya juga sampai pada benefitnya. Dan hasilnya sudah dilakukan panen parsial beberapa saat yang lalu, ” ungkapnya.
Upaya lain yang tidak kalah penting kata dia, bagaimana memberantas illegal fishing yang akhir-akhir ini meningkat ekskalasinya di perairan Laut Aceh Singkil.
“Kadang mereka meningkat ekskalasinya, namun ketika kami mengambil tindakan mereka stop,” kata Saiful.
Tak hanya di perairan laut, illegal fishing juga terjadi di perairan sungai seperti setrum dan potas atau racun. Untuk itu diharapkan hal ini bisa dihilangkan.
Sementara itu klaster budidaya ikan kakap putih saat ini menjadi fokus Dinas Perikanan untuk dikembangkan sebagai komoditi unggulan. Namun jumlahnya masih sangat terbatas, sementara permintaan pasar cukup tinggi.