ACEH SINGKIL – Penyebab kematian pria bernama Trimo, 45 tahun pada Sabtu, 10 Mei 2025 di perkebunan kelapa sawit PT Astra Aceh Singkil, terungkap.
Pada Kamis, 15 Mei 2025, pihak Kepolisian Resort Aceh Singkil mengatakan, Trimo meninggal karena kelelahan akibat reflek ikut berlari setelah melihat salah seorang saksi S yang berlari lebih dulu.
“Dari keterangan saksi-saksi inisial M dan D, meninggalnya Trimo di Kebun Astra Afdeling Bravo karena kelelahan,” kata Kapolres Aceh Singkil melalui Kasi Humas, Iptu Eska Agustinus Simangunsong.
Hal ini diperkuat dari hasil identifikasi rumah sakit yang menunjukan tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
“Informasi dari dokter bahwa hasil sementara korban meninggal dunia karena mengalami kelelahan,” katanya.
Simangunsong mengungkan kronologi, awalnya Trimo bersama dua temannya inisial D dan M pada Sabtu, 10 Mei 2025 lalu sekitar pukul 09.00 WIB memasuki kawasan areal Perkebunan PT Socfindo, yang berbatasan dengan kebun PT Astra tepatnya di Desa Pandan Sari, Kecamatan Gunung Meriah.
Lanjutnya, mereka bertiga memarkirkan sepeda motornya disitu dan berjalan menuju ke arah perkebunan PT Astra. Tujuan mereka melakukan aktivitas pengutipan brondolan sawit.
“Pada saat istirahat makan siang, mereka bertiga melihat seseorang yang mereka kenal berinisial S berlari melarikan diri seperti dikejar sesuatu,” kata Simangunsong.
Sontak melihat keadaan S itu mereka bertiga ikut merasa ketakutan dan secara reflek berpencar melarikan diri.
D dan M searah melarikan diri, sedangkan Trimo, sendirian pontang panting melarikan diri ke arah lain.
Dirasa sudah aman D dan M keluar dari persembunyian dan mencari Trimo. Saat pencarian, mereka menemukan Trimo dalam keadaan telungkup tidak sadarkan diri di jalan lintasan sawit kawasan PT Astra Afdeling Bravo.
“Korban dilaporkan sudah tidak sadarkan diri dan melaporkan ke Kepolisian setempat lalu mengevakuasi korban ke RSUD setempat,” ungkapnya.
Dari hasil sementara visum yang didapat dari dokter, korban tidak ada mengalami tindak kekerasan di sekujur tubuhnya. Dokter setempat menyebutkan korban meninggal karena mengalami kelelahan.
Sedangkan pihak keluarga juga tidak mengizinkan dilakukan autopsi jenazah Trimo lebih lanjut, dan membuat surat pernyataan dan menerima dan ikhlas atas kematian korban.
Simangunsong mengakui peristiwa ini sempat terekam di media sosial dan menyebar dengan cepat dengan dugaan korban dikejar-kejar Satpam perusahaan.
“Namun dari pernyataan kedua saksi teman korban inisial D dan M mereka tidak ada melihat Scurity dan mengejar-ngejarnya tapi lantaran seseorang berinisial S yang mereka kenal berlari,” jelasnya.
Pemeriksaan juga masih dilakukan pihak kepolisian seperti S yang dilihat korban tiba-tiba berlari masih belum di BAP.
Kemudian, tambahnya, Satpam PT Astra dimintai keterangan tidak ada mengaku mengejar seseorang dan tidak menemukan mereka bertiga, namun hanya menemukan tumpukan sawit 43 jenjang yang diduga kuat dipanen ilegal.
“Pihak Satpam hanya menemukan tumpukan sawit 43 jenjang yang diduga dipanen secara ilegal dan mengamankannya ke pos satpam,” jelasnya.
Trimo sendiri merupakan warga Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah ditemukan tak bernyawa dikawasan Afdeling Bravo PT Astra.
Peristiwa ini juga tersiar di facebook, dimana sikorban yang tergeletak dikawasan perkebunan tergeletak dikerumuni sejumlah warga dan ditangisi seorang wanita yang diduga keluarga dekatnya.
Hal ini menimbulkan beragam komentar nitizen, dimana lokasi dan penyebab si korban meninggal dunia.