Singkil - Dua pekan berlalu berita penemuan bangkai babi di sungai Aceh Singkil. Namun imbasnya dari berita tersebut, masih dirasakan pedagang ikan hingga saat ini.
 
Bagaimana tidak, akibat berita penemuan bangkai babi di sungai Aceh Singkil, pedagang ikan mengalami kerugian puluhan juta rupiah karena penjualan ikan menurun.
 
Hal ini diungkapkan oleh beberapa pedagang ikan di wilayah tersebut.
 
Nazaruddin, penjual ikan yang sehari-hari berjualan di pasar harian dan mingguan Rimo ini sudah hampir sebulan mengaku dagangannya sepi pembeli. Biasanya ia dapat menjual ikan minimal 125 kg per hari. 
 
"Namun saat ini membawa 25 kg pun tidak laku, padahal tidak hanya dijual di pasar harian dan mingguan Rimo saja, tetapi sampai ke PT Astra dan PT Delima," keluh Nazar kepada Berita Xtra, Sabtu (30/11/2019) di Singkil Utara.
 
Belum lagi mengenai berita hoax, bangkai babi terjangkiti virus kolera dikhawatirkan di makan ikan. Agar tidak mengalami kerugian lebih besar, terpaksa ikan yang tidak laku diasinkan. 
 
Pedagang ikan lainnya, Ishak di desa Ketapang Indah mengatakan biasanya penjualan ikan dalam satu minggu mencapai 3 - 5 ton. Selain ikannya tidak laku, lebih parahnya lagi anggotanya juga tidak mau membawa ikan ke pasar.
 
Ishakpun terpaksa menutup gudang ikan miliknya. Diperkirakan ia mengalami kerugian Rp 10 hingga 15 juta.  
 
Hal yang lebih memprihatinkan dialami oleh Toke ikan di Desa Ketapang Indah. Alamin yang memiliki sekitar 50 orang anggota, karena berita bangkai babi, sampai sekarang tidak ada lagi yang datang mengambil ikan.
 
Alamin sudah mencoba menjual sendiri ke pasar Rimo, tetapi hanya terjual Rp 30.000.  Bahkan ia mencoba membeli dari daerah lain, seperti Pulau Banyak dan Sinabang, akan tetapi tetap tidak laku juga.
 
Dalam waktu sebulan, Ia biasanya dapat menjual 10 ton ikan. Namun dalam bulan ini, 1 ton saja tidak laku sehingga ikan busuk dan dibuang. Akibatnya ia mengalami kerugian hampir mencapai Rp 50 juta.
 
Agar tidak mengalami kerugia yang lebih besar lagi, para pedagang ikan berharap Pemerintah Daerah melalui instansi terkait agar memperhatikan nasib mereka supaya secepatnya persoalan ini diselesaikan. (Hab)