Singkil - Bangkai babi yang mengapung di Sungai Singkil sejak kemarin mulai menimbulkan keresahan warga. Pasalnya warga enggan mengkonsumsi ikan sungai.

Bangkai babi yang mengapung tersebut diperkirakan dari beberapa peternakan babi di Sumatera Utara seperti di daerah Tigalingga, Kabupaten Tanah Karo dan daerah Sidikalang, Kabupaten Dairi yang melintasi Sungai Alas Kutacane.

Kemudian alirannya menuju Sungai Souraya Kota Subulusaalam hingga bermuara ke Sungai Cinendang dan Sungai Rintis di Kabupaten Aceh Singkil.

Babi tersebut diduga mati karena terjangkit virus kolera. Warga khawatir ikan di sungai terkontaminasi virus dari bangkai babi.

Windari, seorang warga Aceh Singkil menuturkan untuk sementara tidak membeli ikan sungai karena takut tertular virus kolera dari bangkai babi. "Biasa konsumsi ikan sungai, tadi saya beralih membeli banyak telur," katanya.

Terpisah Kabid Peternakan Iswani, SP dari Dinas Pertanian Holtikultura dan Peternakan Kabupaten Aceh Singkil saat dikonfirmasi Berita Xtra, Jumat (15/11/2019) di ruang kerjanya mengatakan virus kolera tidak dapat menular ke manusia karena perbedaan gen.

"Virus kolera hanya dapat menular antara babi dengan babi," kata Iswani.

Selain itu virus kolera juga tidak dapat menular pada binatang lain semisal ke ikan atau yang lainnya.

Sementara bangkai babi yang kondisinya sudah gembung dan membusuk, menurutnya tidak dapat diidentifikasi apakah mati karena virus kolera atau tidak.

"Kita akan koordinasi dengan Dinas Peternakan lintas Kabupaten, Dinas Peternakan dari Subulussalam terlebih dahulu kemudian ke Kabupaten lainnya,"

Menurut Iswani, pihak Pemerintah Daerah Aceh Singkil juga telah melakukan koordinasi dinas terkait yakni Dinas Pertanian Holtikultura dan Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, BPBD, MPU yang dikomandoi oleh Wakil Bupati beserta Sekda pada hari ini.

Selain itu pihak Dinas Pertanian Holtikultura dan Peternakan juga telah melakukan antisipasi terhadap warga Aceh Singkil di perbatasan Kecamatan Danau Paris yang memelihara babi agar tidak menerima babi dari luar daerah untuk dikonsumsi.

"Kami juga akan menyisir ke sungai mencari bangkai babi yang hanyut untuk selanjutnya di kubur," tambah Iswani.

Iswani menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir tertular virus kolera. Ia juga berharap bagi yang tinggal dibantaran sungai agar tidak mengkonsumsi sementara air sungai karena dikhawatirkan airnya mengandung najis. (Hab)