Singkil - Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menganggap pembangunan jalan evakuasi tsunami atau jalan mitigasi dari Kecamatan Singkil menuju Gunung Meriah tidak terlalu penting.

Hal ini membuat kekecewaan masyarakat di daerah tersebut pasalnya jalan mitigasi merupakan akses tercepat evakuasi bencana alam bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir.

"Padahal jalan mitigasi tersebut merupakan akses tercepat satu-satunya untuk evakuasi masyarakat 16 desa dari bencana alam di kawasan pesisir yang terkepung laut, sungai dan kawasan gambut," ujar Rostani warga setempat kepada wartawan sabtu (9/3).

Dirinya mengaku kecewa, lantaran jalan tersebut, akses vital bagi warga Kecamatan Singkil tapi tidak dimasukkan dalam kegiatan prioritas yang mendesak, yang menyangkut keselamatan masyarakat.

Sebab, jelasnya, ada sejauh sekira 40 kilometer yang harus ditempuh melewati jalur tepi anak laut menuju lokasi aman sampai ke Kecamatan Gunung Meriah, atau sekira 1 jam perjalanan.

Dia memaparkan, melewati jalur mitigasi hanya sekira 15 menit untuk penyelamatan diri dari bencana alam hingga ke titik aman Desa Sebatang, dan Tanah Merah, Kecamatan Gunung meriah.

"Jika bencana alam, satu-satunya jalur penyelamatan diri bisa cepat kelokasi aman lewat jalan mitigasi, masak tidak bisa diprioritaskan pemerintah Aceh, kami sangat khawatir juga jika bencana," ucap Rostani bersama warga lainnya di Singkil.

Sebelumnya Gubernur Aceh Nova Iriansyah, ketika diwawancarai wartawan Selasa(5/3) ketika meninjau jembatan Singkil - Kuala Baru di Kilangan, mengatakan akibat keterbatasan fiskal dan keterikatan dengan peraturan menteri keuangan dan sesuai RPJM yang ada, jalan Evakuasi itu tidak terlalu prioritas.

Memang, kata Nova, tsunami Aceh sudah 15 tahun silam, seperti di Banda Aceh juga masih ada jalan mitigasi yang belum tuntas, dan tetap dilaksanakan bertahap, namun setiap tahun akan dianggarkan meski relatif minim.

"Secara bertahap jalur mitigasi tersebut akan terus dikerjakan, tapi masih banyak yang lebih urgen, mitigasi bisa menyusul pelan-pelan," jelasnya.

Pantauan wartawan saat ini jalan tersebut sudah putus lantaran dibeberapa titik tergerus banjir. Sementara sepanjang sekira 15 meter jalur yang menghubungkan Singkil menuju Kecamatan Gunung Meriah sampai Desa Sebatang, seluruhnya sudah di aspal.

Namun, hanya sekitar 3,2 kilometer belum beraspal dan mengalami kerusakan. Sementara kucuran anggaran terakhir tahun anggaran 2017 Rp 10 miliar lebih.

Menurut catatan lama Antara, Jalur Evakuasi tsunami tersebut, merupakan rute terpendek dari Desa Takal Pasir(Trandas) Kecamatan Singkil hingga ke lokasi titik aman Desa Sebatang dan Tanah Merah Kecamatan Gunung Meriah berjarak sekira 20 kilometer.

Jalan pintas yang membelah Perkebunan PT Nafasindo itu, telah dimulai pekerjaannya sejak 2009 silam, namun belum tuntas hingga memasuki tahun anggaran 2019 ini.

Jalan Evakuasi Tsunami dibangun untuk perjalanan darurat yang sewaktu - waktu bila terjadi bencana Tsunami kawasan jalan mitigasi itu, alternatif terdekat untuk menyelamatkan diri.

Berbeda jika melintasi jalur utama, jalan Provinsi yang melalui pesisir laut dan anak laut Kecama Singkil Utara, harus menempuh perjalanan berjarak dua kali lipat hingga 40 Kilometer bila mencapai Kecamatan Gunung Meriah.

Jalan Singkil - Sebatang merupakan satu-satunya akses vital sebagai jalur evakuasi bencana alam, gempa bumi dan gelombang tsunami.

Namun jalur tersebut sampai saat ini masih terputus pasca banjir besar sejak November, Desember 2016 dan Januari 2017. Di tiga titik ruas jalan yang masih tahap pengerasan, mendekati Desa Sebatang putus, namun beberapakali dilakukan pemerataan kembali oleh perusahaan perkebunan PT Nafasindo.(hab).