Singkil - Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Singkil menggelontorkan dana hibah untuk KONI di tahun 2017 sebesar 1,4 Milyar. Awalnya Pemda menghibahkan 400 juta, namun karena mengikuti PRA PORA maka dalam perubahan kembali dikucurkan dana sebesar 1 milyar.

Tahun 2018 Pemda kembali menggelontorkan hibah sebesar 1,2 Milyar itu masih dana yang tertera dalam DPA belum lagi di perubahan ini hanya untuk mengikuti PORA ke Xlll di Jantho, Aceh Besar.

Dengan besaran nilai dana yang dianggarkan tersebut, dianggap tidak sesuai dengan prestasi yang ditorehkan atlet Aceh Singkil pada PORA ke-XIII tahun ini.

Aceh Singkil hanya mampu meraih predikat ke-17 dari 23 kabupaten/kota se-Aceh dalam PORA ke-XIII, dengan perolehan mendali 4 emas, 2 perak dan 14 perunggu.

Sekjen Himapas Zazang Nurdiansyah angkat bicara terkait hal tersebut.

"Zazang Nurdiansyah meminta bupati supaya membekukan KONI aceh singkil karena PORA Yang diselenggarakan Di kabupaten aceh besar aceh singkil dapat peringkat 17 dari 23 kabupaten kota ini jelas sangat memalukan," tegas zazang.

Zazang menilai Tidak masuknya aceh singkil 10 besar di kegiatan PORA ini di sebabkan salah satu nya karena tidak layak seorang ex PNS menjadi ketua KONI yang notabene tidak paham dengan dunia olahraga hingga berdampak kepada penampilan atlit yang kurang memuaskan.

Alangkah Baiknya Pengurus KONI Di bekukan, kami minta kepada Sekda Aceh Singkil yang sebelumnya menjadi Ketua harian KONI dan menyerahkan kepada saudara FY agar di bekukan.

Ia juga menambahkan seharusnya seorang pengurus KONI, pelatih dan manager harus miliki lisensi atau memiliki pengalaman selama 2 tahun minimal di 1 cabang Olahraga (Cabor), namun itu tidak di miliki oleh ketua KONI saat ini.

Yang sangat di sayangkan lagi apabila ini benar ketua umum, ketua harian dan sekretaris KONI Aceh Singkil di Jabat oleh satu orang, padahal oknum tersebut juga memiliki pekerjaan di berbagai lembaga lain seperti MAA dan STIP Yashafa.

Bagaimana mungkin bisa melahirkan atlet yang bagus sementara pengurus KONI nya saja aburadul, kata Zazang

Yang lebih ironisnya lagi atlet- atlet dari Aceh Singkil harus bermain di luar daerah dan mampu mengharumkan daerah lain, bahkan yang menjadi andalan aceh singkil di cabang dayung harus pasrah tanpa meraih mendali apapun.

Padahal, atlet dayung dari Aceh Singkil adalah atlet nasional dan sudah beberapa kali mengantongi mendali emas.

Tidak tampilnya mereka di sebabkan kurangnya penghargaan dari pengurus untuk atlit sehingga para atlit andalan Aceh harus memilih bermain dari daerah lain dan memilih untuk tidak tampil, karena bagi mereka bermain di luar lebih di hargai.

HIMAPAS minta kepada PEMDA supaya sesegera mungkin membekukan KONI Aceh Singkil, dan di lakukan penjaringan kembali.

Apabila kepengurusan KONI sudah di ganti Insyaallah mimpi kita dunia olahraga Aceh Singkil akan maju, terlebih di bidang dayung, renang, karate dan Sepak Bola, tegas Zazang.(@)