Singkil - Sejak dua pekan terakhir cuaca buruk disertai gelombang tinggi dan tiupan angin kencang melanda wilayah Aceh Singkil. Akibatnya sejumlah nelayan tradisional enggan melaut.

"Sekitar dua minggu ini badai terus jadi tidak bisa melaut, sesekali melaut kalau cuaca bagus, tapi lebih sering badai," kata Maswardin Daeli, Panglima Laot Gosong Telaga Selatan Kecamatan Singkil Utara, Sabtu (9/5).

Saat ini, kata Maswardin sedikitnya 450 nelayan tradisional di wilayah Singkil Utara terpaksa tidak melaut. Selama ini, tangkapan ikan relatif sepi dan jika dipaksakan cukup berbahaya juga mengancam keselamatan jiwa.

"Biasa bawa pulang ikan 100 kg, namun saat ini paling dapat 30 kg ikan. Untuk sekali melaut menghabiskan rata-rata 20 liter BBM untuk sekali melaut, kami lebih memilih tidak melaut daripada terjadi kecelakaan dan sambil menunggu kembali cuaca normal," pungkas Maswardin.

Sementara Tengku Ismail, salah seorang pengepul ikan di wilayah tersebut mengungkapkan sudah hampir dua pekan ini membeli ikan dari luar Aceh Singkil. "Ini ikan diambil dari daerah Sawang, Tapak Tuan, Aceh Selatan,"

Untuk harga ikan, ungkap Ismail tak jauh berbeda dengan harga dari nelayan lokal. "Seperti ikan dencis ini dijual 20.000 per kilogramnya, gak jauh berbeda apabila membeli dari nelayan lokal dijual dengan harga segitu juga,"

Meski sedang mewabah virus Corona, menurutnya tidak ada penurunan daya beli masyarakat untuk membeli ikan. "Biasa dalam satu hari bisa menghabiskan 4-5 fiber ikan," ungkap Ismail. (Hab)